Kicang atau Kwecang, si legit dari olahan beras ketan yang kenyal, merupakan camilan tradisional yang populer di berbagai daerah di Indonesia, terutama saat perayaan khusus seperti Imlek dan perayaan Tionghoa lainnya. Namun, kelezatannya membuat Kicang dinikmati sepanjang tahun sebagai teman minum teh atau kopi.
Keunikan Kicang terletak pada proses pembuatannya. Beras ketan pilihan direndam dalam air kapur sirih semalaman, memberikan tekstur kenyal dan rasa yang khas. Kemudian, beras ketan dibungkus dengan daun bambu atau daun pisang, membentuk piramida atau kerucut yang cantik, sebelum akhirnya direbus hingga matang sempurna.
Proses perebusan yang lama ini menghasilkan Kicang dengan tekstur yang lembut dan rasa yang sedikit pahit dari air kapur sirih, namun justru inilah yang menjadi ciri khas dan daya tariknya. Aroma daun bambu yang meresap ke dalam ketan juga menambah kenikmatan saat menyantapnya.
Kicang biasanya dinikmati dengan dicelupkan ke dalam gula aren cair yang manis dan legit. Kombinasi rasa pahit dari Kicang dan manisnya gula aren menciptakan harmoni rasa yang sempurna, menggugah selera dan membuat ketagihan. Variasi lain penyajiannya adalah dengan menggunakan madu atau sirup gula merah.
Selain rasanya yang lezat, Kicang juga dipercaya memiliki makna simbolis. Bentuk piramida atau kerucutnya melambangkan keberuntungan dan rezeki yang melimpah. Oleh karena itu, Kicang seringkali disajikan sebagai hidangan istimewa saat perayaan penting untuk mengharapkan keberkahan di masa depan. Mencari camilan unik dan tradisional yang kaya rasa? Kicang jawabannya!

