Chui Kao So, kue kering renyah yang menggoda selera, merupakan camilan tradisional yang tak lekang oleh waktu. Asal-usulnya berakar kuat dalam budaya Tionghoa-Indonesia, khususnya di kalangan peranakan. Kue ini dikenal dengan teksturnya yang rapuh, rasa manis yang pas, dan aroma harum yang khas.
Nama “Chui Kao So” sendiri berasal dari dialek Hokkian, yang secara harfiah berarti “kue tertawa”. Penamaan ini merujuk pada tampilan kue yang merekah atau “tertawa” setelah dipanggang, sebuah ciri khas yang menjadi daya tarik visualnya.
Resep Chui Kao So melibatkan campuran bahan-bahan sederhana seperti tepung terigu, gula halus, telur, minyak samin atau mentega, dan bahan pengembang. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan teknik yang tepat untuk menghasilkan tekstur yang sempurna. Adonan harus diuleni dengan lembut, dibentuk dengan cermat, dan dipanggang pada suhu yang ideal.
Keunikan Chui Kao So terletak pada penggunaan bahan-bahan tradisional dan proses pembuatannya yang masih banyak dilakukan secara manual. Hal ini menghasilkan cita rasa autentik yang sulit ditandingi oleh kue-kue modern.
Chui Kao So bukan hanya sekadar camilan. Bagi banyak orang, kue ini membangkitkan kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga. Kue ini sering hadir dalam perayaan Imlek, pernikahan, atau sekadar sebagai teman minum teh di sore hari.
Saat ini, Chui Kao So masih banyak ditemukan di toko-toko kue tradisional atau pasar-pasar peranakan. Popularitasnya yang terus bertahan membuktikan bahwa kue kering ini tetap menjadi favorit di hati masyarakat Indonesia. Jika Anda mencari camilan yang renyah, manis, dan kaya akan sejarah, Chui Kao So adalah pilihan yang tepat.
Bagi para pelaku bisnis kuliner, Chui Kao So dapat menjadi produk unggulan yang menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi pada rasa atau kemasan, kue tradisional ini dapat menarik perhatian konsumen dari berbagai kalangan. Chui Kao So, lebih dari sekadar kue, adalah warisan budaya yang patut dilestarikan.

